Tantrum Anak 2 Tahun: Bukan Drama, Tapi Belajar Mengelola Emosi

Sore itu saya baru pulang kerja, badan lelah, pikiran masih berputar soal deadline. Belum sempat ganti baju, Raka—anak saya yang baru genap dua tahun—sudah berguling di lantai sambil menangis kencang karena saya mematikan video di ponsel. Nada tinggi, air mata bercucuran, kaki memukul-mukul karpet. Sebagai ibu bekerja yang tinggal di Pulautokongnanas, momen seperti ini bukan pemandangan asing. Dulu saya sering ikut emosi, merasa gagal, atau buru-buru menyuruhnya diam. Tapi setelah bertahun-tahun membaca dan mencoba, saya sadar: tantrum bukanlah perlawanan, melainkan ledakan perasaan yang belum bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.
Mengubah Perspektif: Dari Drama Menjadi Kesempatan Belajar
Butuh waktu bagi saya untuk menerima bahwa tantrum adalah bagian normal dari tumbuh kembang balita. Di usia 2-3 tahun, otak anak belum cukup matang untuk mengatur emosi. Mereka marah bukan karena nakal, tapi karena kecewa, lelah, atau lapar dan tidak tahu cara menyampaikannya. Saya dulu sering membaca artikel yang menekankan pentingnya “mendisiplinkan” anak saat tantrum, padahal yang paling dibutuhkan justru kehadiran orangtua yang tenang. Sekarang, ketika Raka mulai merengek dan kakinya menghentak, saya menarik napas, berjongkok setinggi matanya, dan mengatakan, “Mama tahu kamu kecewa. Tapi Mama harus kerja sebentar. Nanti kita main lagi.” Awalnya ia masih meronta, tapi pelukan dan suara yang stabil perlahan meredakan tangisnya. Saya juga belajar bahwa memberikan pilihan sederhana, misalnya “Kamu mau minum dulu atau peluk?” bisa mengalihkan fokusnya.
Tidak ada satu pun metode yang langsung berhasil pada semua anak. Saya sendiri pernah mencoba teknik “batasi waktu marah” yang ternyata malah bikin Raku makin frustrasi. Dari pengalaman itu, saya paham bahwa setiap anak punya irama emosinya sendiri. Menurut IDAI, respon orangtua yang konsisten dan penuh empati membantu anak belajar mengelola emosi seiring bertambahnya usia. Jadi saya tidak lagi menuntut kesempurnaan. Yang penting saya hadir dan tidak menambah stimulus yang memicu amarahnya—seperti memarahi balik atau membandingkan dengan anak lain. Sebagai sesama ibu, saya tahu betapa melelahkannya fase ini. Tapi percayalah, ketika Raka kemudian tersenyum dan memeluk saya setelah tangisnya reda, saya merasa bahwa setiap tetes tenaga yang saya keluarkan untuk tetap tenang adalah investasi untuk kecerdasan emosinya kelak Variasi kasusnya saya kupas di tumbuh kembang.
Setiap kali tantrum melanda, saya ingat kata-kata yang pernah saya baca dari sumber parenting di Wikipedia Indonesia tentang tahap perkembangan psikososial anak: bahwa anak usia 1-3 tahun sedang mengembangkan otonomi versus rasa malu. Jika kita terlalu keras, ia bisa jadi pemalu dan ragu. Jika kita terlalu membiarkan, ia bisa merasa berkuasa berlebihan. Jadi kuncinya adalah konsisten tapi juga lembut. Sore itu, setelah Raka diam, saya mengajaknya membereskan mainannya sambil bercerita tentang kenapa ponsel harus dimatikan. Ia belum sepenuhnya paham, tapi setidaknya ia mulai belajar bahwa aturan bukan ancaman, melainkan batas yang melindungi.
Perjalanan tumbuh kembang sehari-hari memang penuh liku. Tidak ada ibu yang sempurna, dan itu tidak apa-apa. Yang terpenting, kita terus belajar mendengar dan menyesuaikan respons sesuai kebutuhan anak di setiap usianya.
Untuk konteks lebih: sumber resmi