Belajar dari Tantrum Anak: Tumbuh Kembang yang Sering Disalahpahami

Kamis lalu, di teras rumah kontrakan saya di Pulautokongnanas, Razia — anak kedua yang baru genap dua tahun — tiba-tiba berguling di lantai sambil menjerit. Alasannya? Saya memotong pisangnya dengan bentuk berbeda dari yang ia bayangkan. Waktu itu, saya hampir ikut meledak. Tiga tahun jadi ibu, rasanya belum juga paham. Tapi setelah napas dihela panjang dan seorang teman sesama ibu bekerja mengingatkan, “Dia lagi belajar, Nad. Bukan melawan,” saya mulai melihat tantrum bukan sebagai musuh, melainkan panggung tumbuh kembang yang kadang bikin kita kerepotan.
Fase Ekspresi Emosi dalam Tumbuh Kembang
Dari pengalaman saya mendampingi Razia dan kakaknya, tantrum bukan tanda gagal parenting. Justru sebaliknya, ia sinyal bahwa sistem saraf dan emosi anak sedang berkembang pesat. Dalam proses tumbuh kembang anak, otak bagian depan (prefrontal cortex) yang mengatur kontrol diri belum matang sampai usia 3–4 tahun. Jadi saat balita ngamuk karena pisangnya sobek, sebenarnya ia sedang kewalahan mengelola rasa kecewa dengan alat yang terbatas. Di Pulautokongnanas, banyak ibu muda sepertiku yang kadang merasa malu kalau anak tantrum di depan tetangga. Tapi setelah saya pelajari dari konsultasi di Posyandu dan diskusi dengan dokter anak, hal itu normal.
Saya sendiri menerapkan teknik connect sebelum correct — duduk setinggi matanya, bilang, “Ibu lihat kamu sedih karena pisangnya beda,” lalu tunggu sampai ledakan mereda. Bukan membiarkan, tapi memberi ruang aman baginya untuk belajar menamai perasaannya. Proses tumbuh kembang ini seperti membangun pondasi: kadang retak, lalu ditambal lagi. Tantrum adalah salah satu uji coba yang membuat anak menjadi pribadi yang mampu meregulasi emosinya kelak.
Di sisi lain, tantrum juga mengingatkan saya bahwa sebagai ibu bekerja, ketersediaan saya penuh secara emosional tidak harus 100 persen. Saya coba sediakan 10 menit khusus tanpa gawai saat pulang kerja. Di menit-menit itu, Razia boleh memilih: bermain bebas, bercerita, atau hanya duduk di pangkuan. Hasilnya, intensitas tantrum menurun. Bukan lenyap, tapi lebih bisa ditebak. Dan saya belajar menerima bahwa setiap tangis dan guling di lantai adalah bagian dari perjalanan tumbuh kembang yang menuntut kesabaran lebih dari pada pengetahuan semata.
Penutup alami: Dari teras kontrakan di Pulautokongnanas, saya sadar bahwa tumbuh kembang anak bukan lomba cepat. Ia proses panjang yang kadang kotor, biseet, dan penuh pertanyaan. Tapi ketika Razia akhirnya diam di pangkuan dan berbisik, “Pisang hancur, ma,” saya tahu pelajaran berharga sudah tertanam. Bagi saya, itu cukup.
